Showing posts with label Kesehatan Dan Lingkungan Bekasi. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan Dan Lingkungan Bekasi. Show all posts

Pederita HIV/AIDS, Kota Bekasi Rangking Dua Se-Jabar

 
Bekasi - Penderita HIV/AIDs di Kota Bekasi menjadi daerah kedua terbesar se-Jawa Barat setelah Bandung dengan angka 2.500 penderitanya.

Ironisnya, angka penderita HIV/AIDS berumur produktif yang rata-rata berasal dari pekerja seks komersial dan mereka yang bersifat heteroseksual atau seks yang menyimpang.

Data tersebut disampaikan Direktur LSM Mitra Sehati, Hazami. Dia meminta Pemerintah Kota Bekasi untuk sungguh-sungguh memperhatikan penyebaran virus tersebut.

"Jangan malu untuk mengeluarkan angka itu, masyarakat perlu tahu dan itu jadi bagian pekerjaan pemerintah khususnya Dinas Kesehatan Kota Bekasi untuk memberitahukan kepada khalayak," jelas Hazami, Senin (23/6/2014).

Kata dia, setelah mempublikasikan informasi itu, Pemerintah Kota Bekasi harus melakukan perhatian bagi para pederita agar tidak menularkannya.

"Pemkot punya anggaran bagi mereka. Tapi angkanya saya tidak tahu, silakan ditanyakan langsung," tuturnya.

Anggaran tersebut kata dia semestinya harus dimanfaatkan untuk penderita seperti memberikan akses dalam upaya pengobatan agar mereka nyaman. Pemerintah juga harus melakukan sosialisasi secara terus menerus, serta pendataan yang lebih maksimal.

"Jangan membuat mereka malah kesulitan untuk mendapatkan layanan berobat dan merasa didiskriminatifkan. Jadi mestinya mereka diberikan tempat khusus," kata dia.

Selama ini, lanjut dia, banyak para penderita sulit mendapatkan akses mudah untuk berobat. Bahkan, banyak juga mereka yang minder jika berobat di rumah sakit umum karena kondisinya.

"Kadang mereka minder untuk berobat dengan kondisinya. Seperti penderita HIV/AIDS dari kalangan seks menyimpang atau heteroseksual yang terlihat mencolok pakaiannya dan jadi perhatian di rumah sakit itu," tegasnya.

Dia berharap Pemerintah Kota Bekasi mampu menangkal penyebaran penyakit itu dan terus melakukan sosialisasi, penyuluhan serta memberikan solusi bagi penderitanya dengan lapangan kerja baru.

Tolak Pasien Hingga Meninggal, Dirut RSUD Kab Bekasi Terancam Dipecat

Bekasi - Terkait kejadian yang menimpa Yunita (18), warga Gang Sawo RT 4 RW 7 Kelirahan Jatimulya Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi yang meninggal pasca ditolak dirawat di RSUD Kabupaten Bekasi, mengundang berbagai tanggapan. Unjukrasa sempat dilakukan berbagai kalangan masyarakat dan mahasiswa menyikapi hal ini. Tidak tanggung-tanggung, ancaman pemecatan direktur RSUD Kabupaten Bekasi pun mengemuka ke permukaan.

Diberitakan sebelumnya, Yunita alias Yuni yang menderita liver sejak satu bulan terakhir, ditolak pihak RSUD Kabupaten Bekasi dengan alasan ruangan perawatan sudah penuh. Yuni pun langsung dibawa pulang oleh keluarganya. Namun, dalam perjalanan pulang dia meninggal, karena kondisinya sudah parah.

Selain Wakil Bupati Bekasi, Rohim Mintaredja yang mengaku menyesalkan kejadian tersebut, demikian juga dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bekasi, Mustakim.

Mustakim mendesak, Pemerintah Kabupaten Bekasi, khususnya Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, agar segera memecat direktur RSUD Kabupaten Bekasi, dr. Syahroni karena kejadian tersebut. Sebab, dari peristiwa itu, telah mencoreng Pemerintah Kabupaten Bekasi.

"Rumah sakit ini milik daerah. Kejadian yang menimpa Yunita yang meninggal pasca ditolak perawatan kesehatannya oleh RSUD Kabupaten Bekasi jelas mencoreng Pemerintah Kabupaten Bekasi. Jangan lantaran pasien itu membawa jamkesda atau jamkesmas, kemudian seenaknya pihak rumah sakit menolak pasien warga miskin," ungkap Mustakim saat ditemui di ruang kerjanya, di Gedung DPRD Kabupaten Bekasi, Kamis (23/5/2013).

Menyikapi hal tersebut, Mustakim menegaskan, akan memanggil pimpinan RSUD Kabupaten Bekasi untuk mengetahui alasan penolakan pasien miskin tersebut.

Mustakim menilai, alasan penolakan pasien miskin untuk dirawat di RSUD Kabupaten Bekasi karena ruangan perawatan sudah penuh, hal itu sungguh tidak masuk akal. Dia memperkirakan, penolakan diduga karena pasien menggunakan kartu jaminan kesehatan bagi warga miskin yang dimilikinya untuk berobat.

“Alasan itu tak logis. Mungkin juga ada alasan lain yang menyebabkan pihak rumah sakit menolak pelayanan kesehatan kepada pasien miskin,” tutur Mustakim.

Padahal, dikatakan Mustakim, anggaran pelayanan jaminan kesehatan daerah pada 2013 ini telah disetujui mencapai Rp 60 miliar. Sehingga dengan demikian, rumah sakit Pemerintah daerah dan beberapa rumah sakit swasta yang telah bekerjasama dengan Pemerintah daerah tidak boleh menolak pasien miskin. Apabika hal itu terjadi, maka dia tidak segan-segan akan memberikan rekomendasi kepada bupati untuk diberikan sanksi tegas.

"Apabila dalam pemanggilan direktur utama RSUD ditemukan kejanggalan, saya meminta bupati agar memberikan sanksi. Jika perlu direktur utama RSUD itu dicopot dari jabatannya. Pekan depan kita jadwalkan pemanggilannya," katanya.

TPS Liar di Bekasi Mulai Bermunculan



Bekasi - Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar di Kota Bekasi meningkat. Saat ini diperkirakan ada 135 titik TPS liar di seluruh kecamatan di Kota Bekasi, terutama di Bekasi Barat dan Medan Satria. Padahal pada 2011 ada 80 titik TPS liar.

Hal ini disinyalir mempengaruhi penilaian Adipura beberapa waktu lalu. "Hasilnya tidak mengagetkan. Tentunya ini bisa menjadi peringatan. Kita akan mulai adakan lomba kebersihan tingkat SD, SMP, dan SMA. Lomba ini akan dilakukan secara rutin. Hal yang sama dilakukan juga untuk lingkungan masyarakat, untuk tingkat RT dan RW," kata Kepala Bidang Pendataan dan Pengembangan Dinas Kebersihan Kota Bekasi Ratim pada Senin (11/6).

Upaya ini diharapkan bisa meningkatkan inisiatif warga untuk menjaga kebersihan. Selanjutnya sampah tersebut bisa diolah di tiap lingkungan sebelum diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu.

Pemerintah juga berencana menambah kendaraan pengangkutan sampah. Saat ini Kota Bekasi memiliki 82 truk pengangkut. Jumlah ini akan ditambah 20 unit pada APBD 2012 dan APBD perubahan.

Tiga Zona TPA Sumur Batu Kembali Difungsikan
Pemerintah Kota Bekasi positif kembali memfungsikan TPA Sumur Batu. Hal ini dikarenakan tiga zona tersebut, masih bisa digunakan.

Hal ini dikatakan Walikota Bekasi, Rahmat Effendi. "Tumpukannya masih sekitar 12 meter. Yang sudah tercover tanah bisa dibuka kembali. Sehingga bisa kita gunakan," ujarnya.

Rahmat mengatakan, konsep TPA Sumur Batu sebetulnya baik. Namun adanya insiden longsor beberapa waktu lalu, menyebabkan pemerintah harus menyediakan langkah alternatif.

Pembukaan kembali tiga zona, diperkirakan bisa bertahan sampai November 2012. "Zona lima diperkirakan selesai Oktober tahun ini. Nantinya penggunaan zona lima dan penutupan kembali tiga zona, akan berlangsung dalam waktu yang bersamaan," kata Rahmat.

Tambah Truk Sampah, Bekasi Yakin Raih Adipura 2013



Bekasi - Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, menargetkan akan kembali meraih Adipura sebagai kota metropolitan terbersih pada 2013, melalui berbagai evaluasi kinerja.

"Hitungan saya, kita harus menambah minimal 90 truk sampah lagi untuk meraih Adipura. Tapi itu baru bisa terealisasi pada 2013 mendatang," ujar Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.

Menurut dia, jumlah truk yang ada saat ini kurang memadai untuk mengangkut seluruh sampah rumah tangga di wilayah setempat.

Dinas Kebersihan Kota Bekasi, katanya, tengah mengajukan penambahan truk tersebut secara berkala. Pada 2012, telah diajukan 32 truk tambahan untuk operasional pengangkutan sampah.

Dikatakan, armada yang dimiliki saat ini baru 102 unit, sepuluh di antaranya diperoleh dari hasil pengadaan tahun 2011. Sementara sisanya adalah kendaraan lama yang dirakit pada tahun 90-an.

"Sisanya akan kita tambah secara berkala," ujarnya.

Dinas Kebersihan juga meminta pengadaan bak kontainer untuk ditempatkan di sejumlah lokasi. Dari 40 unit bak kontainer yang diajukan, sebagian disetujui pengadaannya.

"Kontainer juga masih kurang sekitar 100 unit lagi, karena jumlah TPS liar banyak sekali. Dengan adanya kontainer, diharapkan TPS liar bisa dikurangi karena warga dapat membuang sampahnya di kontainer," katanya.

Rahmat juga mengkritisi sejumlah kegiatan Adipura 2011 pada Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang cenderung seremonial belaka dan kurang tepat sasaran.

"Kita akan kurangi kegiatan-kegiatan instansi yang sifatnya seremonial," ujar politisi Golkar itu.

Untuk meraih target Adipura 2013, kata dia, Pemkot Bekasi akan lebih membangun kerja sama dengan masyarakat dari berbagai komunitas.

"Kita juga akan libatkan lagi TNI dan Polri agar bersama masyarakat bahu membahu menjaga lingkungan," katanya.

Pemkab Bekasi Siapkan 250.000 Bibit Pohon



Bekasi - Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menyiapkan 250.000 bibit pohon untuk menanggulangi lahan kritis di wilayah itu.

Kepala Seksi Bina Usaha Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan Kabupaten Bekasi Yudianhar di Cikarang Senin mengatakan, penyediaan 250.000 bibit pohon tersebut dalam rangka pelaksanaan program Kebun Bibit Rakyat (KBR).

"Bibit tanaman hutan yang akan dibagikan seperti trembesi, sengon, akasia, mahoni dan lainnya," kata dia.

Menurut Yudianhar, program tersebut merupakan kegiatan lanjutan dari tahun 2010 yang sudah menanam sekitar 500.000 bibit pohon, yang akan dibagikan kepada lima kelompok tani di Kabupaten Bekasi.

"Selain bisa dimanfaatkan untuk penghijauan lahan kritis, juga bisa dimanfaatkan oleh petani setelah pohon tersebut siap panen," kata dia.

Menurut Yudianhar, saat ini jumlah lahan kritis di wilayah itu mencapai 4.378 hektar. Dari 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Bekasi, lahan kritis tersebar di 10 kecamatan, yakni Muara Gembong, Babelan, Cabang Bungin, Pabayuran, Cikarang Pusat, Cikarang Timur, Bojong Mangu, Setu, Sukatani dan Kecamatan Serang Baru.

"Gerakan reboisasi ini bertujuan untuk melindungi kekuatan struktur tanah, mencegah longsor dan banjir serta mengurangi efek pemanasan global," kata dia.

Selain melakukan penanaman 250.000 bibit pohon di lahan kritis, pihaknya juga sudah menyiapkan 15.000 bibit pohon yang akan dibagikan ke-15 sekolah negeri pada 28 November 2011 mendatang.

"Penanaman pohon di sekolah masuk dalam Program Provinsi Jawa Barat Hijau Berbasis Sekolah atau `Green School And Green Province`," kata dia.

Menurut dia, program tersebut selain untuk menghijaukan lingkungan sekolah, juga untuk mengenalkan kepada siswa tentang pentingnya pohon dan keberlangsungan ekosistem lingkungan.

"Siswa akan kita ajak menanam sekaligus merawat pohon tersebut. Mereka kita ajak untuk mencintai lingkungan sejak dini," ujarnya.

Jenis bibit pohon yang akan ditanam di sekolah, kata dia, lebih banyak pohon produktif seperti mangga, sawo dan pambutan, namun ada juga jenis trembesi, sengon dan ketapang untuk menjaga kekuatan struktur tanah.

"Kami berharap dalam dua tahun ke depan seluruh sekolah di Kabupaten Bekasi bisa rimbun dan asri sehingga suasana belajar menjadi nyaman," katanya. (Ant)

Baru 70 Persen Bayi di Kota Bekasi Peroleh Vaksin



Bekasi - Empat pekan sejak program "Pekan Imunisasi Campak dan Polio 2011" digalakkan pada 18 Oktober 2011, baru 70 persen bayi dan balita di Kota Bekasi yang sudah divaksin. Dalam lima hari tersisa, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi menargetkan 30 persen bayi dan balita yang belum berpartisipasi bisa divaksin.

Kepala Dinkes Kota Bekasi Anne Nur Chandrani Handayani mengatakan, 30 persen bayi dan balita yang belum divaksin itu setara jumlahnya dengan 89.000 jiwa. Ada pun sasaran imunisasi polio sebanyak 158.450 bayi berumur 0-8 bulan. Sementara 138.594 balita berusia 9-59 bulan menjadi sasaran imunisasi campak.

"Harapan kami seratus persen bayi dan balita di Kota Bekasi mendapat vaksin campak dan polio. Makanya kami lakukan penyisiran di sisa waktu lima hari ini," ucap Anne usai menghadiri rapat paripurna di Gedung DPRD Kota Bekasi, Senin (14/11).
Penyisiran yang dimaksudnya berupa upaya jemput bola yang dilakukan petugas dari Dinkes dan puskesmas di masing-masing wilayah. Petugas akan mendatangi satu per satu rumah bayi dan balita yang belum berpartisipasi aktif dengan mendatangi posyandu sebelumnya.

Terhadap bayi dan balita tersebut akan diberikan vaksin di rumahnya masing-masing. Dengan kehadiran langsung petugas ke rumah-rumah mereka, diharapkan tidak ada bayi dan balita yang terlewat divaksin.

Menurut Anne, 30 persen bayi dan balita yang belum divaksin tersebut tidak berarti orang tuanya enggan anaknya diimunisasi. Alasannya bisa jadi karena yang bersangkutan berhalangan saat jadwal imunisasi di posyandu lingkungannya. Bisa juga karena kondisi bayi dan balitanya sedang tidak sehat saat akan diimunisasi. "Sebab imunisasi hanya diberikan pada bayi dan balita yang kondisi tubuhnya sedang bagus. Kalau yang sakit memang tidak disarankan diimunisasi," ucapnya.

Lebih lanjut Anne menegaskan bahwa pemberitaan dua balita asal Kota Bekasi yang meninggal pascaimunisasi tak mempengaruhi pandangan orang tua. Sebanyak 30 persen bayi dan balita itu belum diimunisasi bukan karena ketakutan akan pemberitaan tersebut. "Orang tua semestinya memang tidak perlu khawatir karena Komisi Daerah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Jawa Barat sudah memastikan kedua balita itu meninggal bukan karena imunisasi. Mereka meninggal karena ada penyakit lain. Makanya kami minta agar bayi dan balita yang sedang sakit untuk tak diimunisasi," katanya.

Hujan Satu Jam, Bekasi Kebanjiran



Bekasi - Sejumlah ruas jalan dan wilayah perumahan di Kota Bekasi kembali tergenang air setelah diguyur hujan sekitar satu jam, Selasa (21/9). Ketinggian air di beberapa wilayah berkisar antara 10 hingga 50 cm.

Berdasarkan pantauan "PRLM", sejumlah wilayah yang tergenang air adalah wilayah yang sudah menjadi langganan banjir saat hujan. Salah satu penyebabnya adalah sistem drainase yang kurang berfungsi. Selain itu, sebagian besar wilayah Kota Bekasi merupakan wilayah yang rendah sehingga selalu terendam ketika hujan. Belum lagi, sebagian besar perumahan di Kota Bekasi berdiri di atas lahan bekas rawa atau persawahan sehingga selalu menjadi langganan banjir.

Selain itu, genangan air juga membuat aspal jalan rusak. Bahkan, saat air menggenang kondisi jalan menjadi sangat membahayakan. Selain harus melewati genangan air, pengguna jalan juga harus waspada terhadap lubang jalan yang tidak kelihatan saat hujan setelah tergenang air. Beberapa pengguna jalan bahkan sempat terperosok ke lubang jalan karena kurang hati-hati. Beberapa jalan yang terendam misalnya, Jln. K.H Noer Alie, Jln. Pondokgede, dan Jln. Jatimakmur, Jln. Jatimekar, serta sejumlah jalan lainnya di wilayah Jatiasih.

Kondisi ini sudah sering dikeluhkan warga dan pengguna jalan. Bahkan, beberapa angkutan kota malah mogok karena kondisi jalan yang rusak. Hanya saja, belum ada perbaikan jalan rusak dari Pemerintah Kota Bekasi. Meski, Dinas Bina Marga dan Tata Air Kota Bekasi mengatakan jika dana perbaikan sejumlah jalan yang rusak karena genangan air telah cair. Namun, dengan alasan masih dalam proses tender, perbaikan jalan belum juga terwujud.

Sementara wilayah perumahan yang selalu menjadi langganan banjir misalnya, Perumnas 3 Bekasi Timur serta daerah Kayuringin Bekasi Selatan. Warga Kayuringin Bekasi Selatan, Nur (40) mengatakan sebagian besar sistem drainase di wilayah Kayuringin tidak berfungsi karena tersumbat sampah. (PRLM)

Jalan di Pinggiran Bekasi Rusak Parah, Warga Merana



Bekasi - Separuh lebih warga Kota Bekasi mengeluhkan banyaknya jalan rusak di wilayahnya. Hal ini terungkap dalam jajak pendapat di situs resmi Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi. Hampir 55 persen warga Kota Bekasi menginginkan segera adanya perbaikan.

Fakta yang dilihat masyarakat, beberapa tahun jalan rusak, terutama yang berada di kawasan pinggiran, kerusakan tidak pernah diperbaiki. Kondisi ini memunculkan tudingan miring warga bahwa jalan rusak itu
malah dipelihara oleh Pemkot Bekasi.

Salah satu jalan yang rusak parah adalah ruas jalan Tambun-Cimuning, Kecamatan Mustika Jaya. Lebaran lalu warganya yang bersilaturahmi harus pandai-pandai menghindari lumpur dan kubangan. Sebab, jalan tersebut tidak juga tersentuh perbaikan.

Meski pernah diusulkan menjadi proyek perbaikan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2009, namun tahun itu pula tidak kebagian. Kalau pun ada hanya proyek tambal sulam dan baru beberapa
bulan sudah hancur lagi.

Agus Sofyan, Kepala Dinas Bina Marga dan Tata mengaku saat itu ruas jalan Tambun-Cimuning belum mendapat anggaran pembangunannya. Namun demikian, di titik-titik jalan yang rusak pada ruas jalan tersebut akan kita perbaiki. “Memang anggarannya hanya perbaikan dan sifatnya tambal sulam, “ katanya.

Dia juga menyebutkan kerusakan ruas jalan Tambun-Cimuning, akan diperbaiki menggunakan dana perbaikan rutin. Dan tahun 2010 sudah diajukan sebesar Rp3,15 miliar. Kalau disetujui perbaikan baru akan
terjadi tahun 2011.

Kondisi jalan sekarang ini sangat memprihatinkan, terutama di daerah Kampung Pabuaran. Ruas Jalan Tambun-Cimuning memiliki kerusakan di sejumlah tempat, di antaranya pada ruas jalan di depan Superindo, lalu sebelum SMAN 9 dan di depan pintu masuk Kompleks Perumahan Dukuh Zamrud.

Ruas jalan Tambun-Cimuning, merupakan jalan terusan dari wilayah Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi. Untuk ruas jalan yang ada di wilayah Kabupaten Bekasi kini kondisinya sudah baik, bertolak belakang dengan wilayah Kota Bekasi.

Dengan tidak adanya anggaran perbaikan dari APBD 2009, maka jalan Tambun-Cimuning hingga akhir tahun 2010 nanti kondisinya tetap akan rusak, walaupun ada perbaikan. Mengingat perbaikannya hanya bersifat sementara, tentunya sudah dapat diprediksi perbaikan tambal sulam hanya akan dapat bertahan beberapa bulan saja.

SEPERTI PEDALAMAN

Sejumlah warga mengaku kecewa dengan kondisi ini. “Bayangkan hanya beberapa kilometer dari ibukota Jakarta, tetapi jalannya seperti di pedalaman Kalimantan ,” ujar Matsari, warga RW 03 Cimuning.
Dia menyebutkan jika hujan tiba, tidak banyak aktifitas yang dilakukan warga karena kondisi jalan yang tak layak dilintasi. “Jangankan sepeda motor atau mobil, pejalan kaki saja ogah lewat sini,” ujarnya.

Jalan dengan lebar 3 meter lebih itu sebenarnya menjadi penghubung warga di Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi. Mereka yang mau ke Dukuh Jambrut dan Setu, selalu melintasi jalan itu. Tetapi karena sekarang kondisinya memprihatinkan tak ada nilai ekonomis dari jalan itu.

Beberapa warga juga mengatakan akibat jalan itu rusak, nilai ekonomisnya tidak ada, malah yang ada harga tanah di lokasi itu turun. “Kalau saja jalan mulus, pasti kehidupan warga di sini akan naik
ekonominya,” imbuh, Mawardi, tokoh masyarakat Cimuning.

Pengelolaan Sampah Pasar Tradisional di Kota Bekasi Belum Efektif



Bekasi - Pengelolaan sampah hasil aktivitas pasar tradisional di Kota Bekasi masih banyak dikeluhkan oleh warga yang tinggal di sekitar pasar tersebut. Pasalnya,selain menimbulkan bau menyengat, sampah yang tidak diolah juga mencemari sejumlah saluran air yang mengalir di beberapa perumahan di sekitar pasar tradisional itu.

Beberapa pasar yang dikeluhkan pengeloaan sampahnya misalnya Pasar Pondokgede dan Pasar Bantargebang. Pantauan di lapangan, Minggu (15/8) kondisi Pasar Pondokgede memang sangat kumuh. Meski hanya sebagai pasar sementara karena para pedagang masih menunggu revitalisasi pasar yang baru, keberadaan pasar ini sudah hampir lebih dari empat tahun. Hanya saja, sebagian besar sampah yanng dihasilkan oleh pasar ini tidak diolah dengan menggunakan mesin pengolah sampah. Sebagian masih terlihat menumpuk di sekitar pasar dan baru diangkut pada siang hari. Sebagian lagi dibuang begitu saja di saluran air yang mengelilingi pasar tersebut.

Terlebih, sebagian pedagang yang tidak kebagian lapak sementara memanfaatkan saluran air sebagai tempat berdagang mereka. Para pedagang biasanya memasang bambu di atas saluran air dan berdagang di atasnya. Sementara, di bawah tempat berjualan mereka ada berbagai macam sampah organik yang menyebabkan bau menyengat tercium darin saluran air. Air yang ada di saluran itu juga berwarna hitam pekat dengan sejumlah sampah yang sering timbul.

Selain itu, air yang ada juga tidak mengalir. Tidak hanya sampai ke jalan, bau menyengat bahkan sudah mulai tercium sejak jarak hampir 200 meter dari pasar. Bahkan, saluran air yang mengandung sampah itu sampai ke sekitar perumahan warga yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi pasar.

"Baunya memang sampai ke saluran air yang ngalir ke warga. Sudah sering dikeluhkan, tetapi pihak kelurahan pun kewalahan. Sebab, pedagang beralasan itu hanya sebagai tempat dagang sementara," kata Iwan (46) salah seorang warga Kel. Jatirahayu, Kec. Pondokgede, Kota Bekasi.

Warga Tagih Janji Pejabat Pemkot Bekasi Perbaiki Jalan Rusak



Bekasi - Warga Perumahan Titian Indah, Kelurahan Medan Satria, Kota Bekasi, tagih janji Wakil Walikota Bekasi Rachmat Effendi memperbaiki kerusakan jalan di perumahan serta menurap kali yang ada di depan perumahan tersebut.

“Pak Rachmat waktu kampanye sebagai walikota janji perbaikan jalan dan menurap kali, tapi sampai sekarang janji tersebut belum terpenuhi,” ungkap Edi Sapuan, tokoh masyarakat di perumahan tersebut, kemarin.

Saat Wakil Walikota Bekasi Rachmat Effendi meletakkan batu pertama pembangunan gapura Perumahan Titian Indah, warga kembali menagih janji tersebut. Wakil pun kembali berjanji akan menganggarkan dana melalui APBD untuk perbaikan jalan dan penurapan kali.

Sejumlah warga mengatakan keberadaan kali di depan gerbang Perumahan Titian Indah sangat berarti sebagai saluran pembuang dari perumahan. “Kali ini mampet, berarti ancamannya tak ada yang lain, kecuali banjir,” tutur Ketua RW 12, Sugiantoro.

Sedangkan tentang pembangunan gapura perumahan, H Sutadji, panitia, mengatakan dananya sepenuhnya merupakan swadaya masyarakat di empat RW di perumahan tersebut. Anggarannya sekitar Rp80 juta. Namun, sebut Sutadji, wakil walikota juga berjanji akan membantu biaya pembangunan gapura ini.

Jalan rusak di Kota Bekasi sepertinya sudah jadi hal lumrah. Bahnyak jalan terutama yang ada di permukiman banyak yang rusak. Yang juga paling parah adalah jalan menuju Perumahan Pejuan di Mendan Satria. Jalan mirip kubangan kerbau. Mobil sedan tidak bisa lewat, padahal jalan terbut fital untuk menghubungkan kawasan Pondok Ungu ke arah Jalan Raya Bekas.

Pejabat di Pemkot Bekasi memang payah, ga peduli terhadap jalan rusak, proyeknya terlalu mercu suar seperti pembangkit listrik dari sampah dan sebagainya, nyatanya jalan yang sangat fital banyak yang rusak, ujar Adang, warga Harapan Permata.(sumber)

Flu Burung Renggut Nyawa Wanita Muda di Bekasi



Bekasi - Lama tak terdengar, flu burung kembali memakan korban. Di awal 2010 ini, seorang wanita berusia 25 tahun meninggal dunia akibat keganasan virus tersebut.

"Inisialnya NL. Dia tertular dari unggas yang juga positif flu burung," ujar Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tjandra Yoga Aditama pada detikcom, Kamis (11/2/2010).
 
iklan