Catatan :
Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   

Warga Cikunir Berhasil Gagalkan Perampokan Minimarket

Bekasi - Pencurian dengan kekarasan kini menghantui Kota Bekasi. Rabu (25/2/2015) dinihari salah satu minimarket yang terletak di Bekasi Selatan disantroni perampok. Namun berhasil digagalkan warga setepat.

Menurut Humas Polresta Bekasi Kota, AKP Siswo, peristiwanya berawal  saat warga jalan Cikunir memergoki sekelompok orang tengah membongkar paksa sebuah minimarket Alfamart. namun bukannya melarikan diri, 3 orang diantaranya malah menyerang warga yang memergoki.

“Beruntung saat diserang para perampok itu, warga yang memergoki bisa meladeninya. Hingga akhirnya 1 orang diantaranya bersimbah darah, sedangkan 2 orang lagi bersembunyi di perumahan bisa ditangkap hidup-hidup meski sempat menjadi bulan-bulan warga,” kata Siswo diruang kerjanya.

Sedangkan lainnya, kata Siswo, berhasil melarikan diri menggunakan minibus berjenis Avanza menuju arah jalan tol Cikunir.

“Pelaku yang mengalami luka parah, saat ini kondisinya masih dalam penanganan tim medis RS Polri di Kramatjati Jakarta Timur,” kata Siswo

Dari lokasi kejadian, tambah Siswo, petugas berhasil mengamankan sebuah tas berisi bor, linggis, obeng dan karung. Untuk penyeledikan lebih lanjut pihaknya akan memeriksa 3 orang yang tertangkap itu.

Lebih lanjut Siswo mengatakan, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, para pelaku dijerat pasal tindak pidana percobaan pencurian dengan kekerasan dan penganiayaan sebagaimana yang dimaksud Pasal 365 Jo Pasal 53 Jo Pasal 351 KUHP dengan ancaman hukuman penjara diatas 5 tahun.


Penulis: Hendro
Sumber: www.harianterbit.com

Bekasi Akan Tutup Paksa RPH Babi dan Anjing

Bekasi - Dalam razia yang dilakukan FPI beberapa waktu lalu diketahui adanya belasan RPH anjing dan babi di Rawalumbu, Bekasi. Pemkot bekasi memastikan RPH tersebut tidak memiliki izin dan akan ditutup.

Dinas Perekonomian Rakyat (Dispera) Kota Bekasi mengakui adanya RPH ilegal di Jalan Caringin, Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi setelah melakukan pemantauan.

"RPH tersebut memotong hewan yang dilarang, seperti anjing dan babi. Kami akan tindak," ujar Sekretaris Dispera Kota Bekasi, Dedet, Selasa (24/2/2015).

Menurutnya, RPH itu menyalahi aturan dan akan segera ditertibkan. Dedet mengaku, Pemkot Bekasi hanya memiliki satu RPH binaan dan terdaftar, yakni berlokasi di Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara.

"Kalau ada yang lain RPH itu ilegal dan harus ditutup demi aturan yang berlaku," katanya.

Dispera, kata dia, telah melakukan pemantauan di RPH tersebut. Pemilik RPH ilegal itu telah mengakui adanya pemotongan hewan itu. Namun daging hewan tersebut hanya didistribusikan untuk kalangan tertentu saja.

Ditempat terpisah, wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu mendesak agar pihak terkait langsung ambil tindakan. "Harus segera ditertibkan karena meresahkan masyarakat," tambahnya.

Menurutnya, beberapa warga Bekasi juga mendesak pemerintah agar mengambil tindakan dan penutupan RPH tersebut.

Untuk diketahui, Front Pembela Islam (FPI) Bekasi Raya menemukan tempat pemotongan hewan terlarang itu dalam razia mereka. Sekitar 15 rumah memotong hewan anjing dan babi di lokasi tersebut.

Bahkan, ditemukan hewan yang masih hidup siap dipotong di RPH di Jalan Caringin Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi.


Penulis: Abdullah M Surjaya
Sumber: Sindo

Warga Bekasi Keluhkan Kurangnya Tempat Sampah

Bekasi - Berdasarkan penilaian Adipura, kota Bekasi dinobatkan sebagai kota terkotor ketiga. Di kota Bekasi banyak tumpukan sampah di pinggir sungai dan di pinggir jalan.

Dari pantauan Republika, terdapat tumpukan sampah di pinggir Kali Pintu Air, tepatnya di bawah jembatan Kali Pintu Air dan di samping Jalan Pintu Air dekat Stasiun Kota Bekasi, Kelurahan Marga Mulya, Kecamatan Bekasi Utara.

Salah satu warga Medi Margawan (63 tahun) mengatakan masyarakat membuang sampah ke pinggir kali karena tidak ada tempat sampah. Ke depannya, ia dan warga lainnya berharap ada tempat untuk membuang sampah.

"Saya dan warga yang lain memang suka membuang sampah di sana karena tidak ada tempat lagi," ujar Medi kepada Republika, Rabu (25/2)

Medi mengaku selama ia berjualan nasi di sekitar situ, truk pengangkut sampah tidak sampai ke tempatnya berjualan. Ditambah petugas kebersihan juga tidak ada.Dia mengaku kerap membuang sampah ke pinggir sungai, tapi sebagai bentuk tanggung jawabnya ia juga sering membakar sampah tersebut.

Pada pukul 11.30 di trotoar Jalan Baru, Kampung Crewet, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur juga masih terdapat tumpukan sampah. Meski telah siang, tidak ada petugas atau mobil penganggkut sampah yang datang.

Menurut Kartono (35), warga Duren Jaya, masyarakat membuang sampah bukan pada tempatnya karena kurang tersediannya bak-bak sampah. Ia berharap dinas terkait agar menyediakan tempat pembuangan sampah agar Bekasi menjadi kota yang bersih.

Sekretaris Komisi C DPRD Kota Bekasi dari fraksi PDI Perjuangan Enie Widhiastuti mengatakan hal serupa. Ia mengaku kerap menjumpai tumpukan sampah di pinggir jalan, contohnya di bawah jembatan layang Patriot, Di Bekasi sampah kerap menumpuk setelah pukul 18.00 WIB hingga pagi.

Menurut Enie, perlu dibuat program darurat sampah dengan menyediakan bak penampungan sampah di setiap RW. Gunanya supaya warga tidak merasa harus berjalan jauh untuk membuang sampah pada tempatnya.


Penulis: C10
Sumber: REPUBLIKA.CO.ID

Pasar Kumuh dan Semrawut, Walikota Bekasi Marah-marah

Bekasi - Walikota Bekasi berang melihat kondisi pasar yang semerawut dan sepertinya dibiarkan kumuh, “Mestinya kepala pasar tanggap, kalau memang rusak perbaiki. Kalau tidak mampu laporkan,” ujar Rahmat Effendi, Walikota Bekasi, saat meninjau Pasar Kranji Lama di Jl Pemuda, Bekasi Barat, Rabu.

Didampingi Cecep Suherlan, Kepala Dinas Perekonimian Rakyat Kota Bekasi dan Dadang Hidayat, Kepala  Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pepen, sapaan akrab Rahmat Effendi, sempat melihat kondisi lantai dua di Pasar Kranji Lama. Kondisinya hancur, keramiknya sudah terkelupas dan bekas kotoran tanah menumpuk di lantai.

Di  Pasar Kranji Lama, Walikota melihat sejumlah lorong dan eplasemen pasar yang sepertinya dibiarkan kotor, “Saya akan tinjau lagi, Jumat depan kondisinya sudah berubah,” harap walikota.

Sesuai ke Pasar Kranji Lama, walikota mengunjungi Pasar Jatiasih. Di loksi ini terlihat  cukup tertata rapi untuk pengelolaan pasarnya, seperti bangunan yang meski sudah lama dibangun telah dicat ulang dan dan pengelolaan tata letak pedagang sudah bagus akan tetapi pada badan jalan pintu utama terjadi hancurnya jalan yang menyebabkan kemacetan di jalan raya jatiasih.

“Untuk pengelola Pasar Jatiasih, saat instruksikan buat laporan ditujukan ke Binamarga dan inventarisir kondisi jalan dekat pasar yang rusak,” katanya, kepada kepala pasar.

Lain halnya dengan lokasi Pasar Bantargebang, tata kelola yang sumpek dan padat dan terlihat ada tumpang tindih antara pengelola pasar dengan pihak ketiga yang diberi ijin membangun di lokasi itu, “Saya minta ditelusuri kenapaada jalan di sekitar pasar, apakah ada proses yang dilanggar atau tidak,” tegas walikota.

Walikota mengatakan, tujuan meninjau pasar adalah untuk melihat konstruksi bangunan yang telah lama berdiri apakah masih bagus atau sudah tidak memenuhi standart bangunan untuk sebuah pasar di Kota Bekasi. “Selain itu, kami juga ingin tahu kondisi harga-harga di pasar tradisional yangkatanya melambung,” ujar Pepen. Soal keluhan dari pedagang dan pembeli di pasar serta pengecekan tata kelola retribusi, pengolahan sampah di pasar dan sinegritas dengan dinas terkait.


Penulis: Saban
Sumber:Poskota

Jalan Rusak Tewaskan Pengendara, Pemkot Bekasi Digugat


Bekasi - Lembaga Bantuan Hukum Jakarta rencananya akan menggugat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi di Pengadilan Negeri Bekasi. Gugatan terkait kasus jalan rusak yang memakan korban jiwa. Gugatan akan didaftarkan pada Kamis (26/2/2015).

"Kita mau daftarkan gugatan ke panitera Pengadilan Negeri Bekasi, terkait jalan provinsi rusak di Bekasi dan menyebabkan kematian," kata Pengacara Publik LBH Jakarta Nelson, Rabu (25/2/2015).

Gugatan tersebut, menurut dia, terkait kondisi rusaknya Jalan Siliwangi yang membentang dari Bantar Gebang, Bekasi menuju Cileungsi, Bogor. Pihak tergugat yakni Gubernur Jawa Barat, Walikota Bekasi, Kepala Dinas Bina Marga yang menangani jalan rusak tersebut, dan Kepala Dinas Perhubungan terkait.

Para tergugat dianggap telah melakukan perbuatan melawan hukum karena tidak melakukan pemeliharaan jalan dan pemasangan rambu lalu lintas akan adanya jalan rusak itu. Sepanjang jalan tersebut yang sehari-hari dilintasi oleh kendaraan berat, berkerikil, tidak terdapat median jalan, dan tidak ada penerangan lampu pada malam hari dianggap sudah cukup berisiko bagi pengguna jalan.

Pihak LBH melayangkan gugatan terkait kasus kematian seorang pengendara motor yang tewas karena jalan yang rusak. "Ada seorang bapak naik motor di Jalan Siliwangi, kena lubang, lalu enggak ada sparatornya, dia keluar jalur dan tertabrak bus, nyawanya enggak tertolong dan meninggal di rumah sakit," ujar Nelson.

Dengan gugatan tersebut, pihaknya berharap pemerintah daerah dan kota dapat memperhatikan aspek keselamatan di jalan. Hal tersebut, menurut dia, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan juncto Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya, memerintahkan kepada Pemerintah untuk senantiasa menjaga kondisi jalan agar tetap prima dan memenuhi asas keselamatan.

"Kalau jalan rusak, itu harus ada marka tulisan 'hati-hati jalan rusak'. Itu diwajibkan dalam Undang-undang. Tugas mereka untuk perbaiki jalan dan bikin marka jalan. Tetapi ini tidak ada. Di jalan itu hanya ada tulisan 'hati-hati rawan kecelakaan', dan itupun hanya satu. Jelas itu berbeda dengan imbauan adanya jalan rusak," ujar Nelson.


Penulis: Robertus Belarminus
Sumber: Kompas.com

Heboh Begal Bukan Rumor, 3 Pelaku Sudah Ditembak Mati

Bekasi - Polisi menembak mati seorang begal sepeda motor bersenjata api karena melawan ketika ditangkap. Tersangka yang berinisial AS, 34 tahun, tersebut kerap beraksi di kawasan Cikarang. Selain AS, polisi meringkus tiga rekannya, yaitu DM, 29 tahun, CS (33), dan IH (21). “Mereka terpaksa dilumpuhkan dengan ditembak kakinya,” kata Wakil Kepala Satuan Reskrim Polres Kabupaten Bekasi, Ajun Komisaris Suwardi, belum lama ini.

Menurut Suwardi, komplotan itu mengincar kendaraan beroda dua yang diparkir di halaman rumah atau di pinggir jalan. “Setiap beraksi mereka membawa senjata api rakitan untuk menakuti korban,” ujarnya. Tersangka AS sudah beberapa bulan terakhir menjadi buruan polisi. Jejaknya terendus ketika akan menjual sepeda motor curian di Karawang, Jawa Barat.

Ketika menyadari sedang diincar polisi, AS melarikan diri sambil mengeluarkan senjata api. Saat itulah polisi melepaskan tembakan dan mengenai punggungnya. Dari tangan tersangka disita barang bukti berupa dua kunci “T” berikut 11 anak kunci, sepucuk senjata api rakitan beserta enam peluru, lima telepon seluler, dan dua unit sepeda motor jenis Honda Beat.

Dalam dua bulan terakhir, Kepolisian Resor Kabupaten Bekasi telah menembak mati tiga begal sepeda motor. “Semua pelaku berasal dari Lampung,” kata Suwardi. Saat menjalankan kejahatan, kata dia, mereka tidak kenal belas kasihan. Bahkan jika korban melawan, mereka tidak segan-segan menghabisi nyawanya.

Adapun tersangka yang ditahan saat ini berjumlah 10 orang. Selain dari kelompok Lampung, mereka ada yang berasal dari Bekasi dan Karawang. “Kalau kelompok Lampung cirinya selalu membawa senjata api,” kata Suwardi. Sedangkan untuk kelompok lokal biasanya membekali diri dengan senjata tajam. “Kalau kepergok, mereka lebih suka kabur daripada melawan,” ujar Suwardi.



Penulis: ADI WARSONO
Sumber:Tempo

Polsek Bekasi Kota Sita Miras Oplosan Dari Warung Jamu

Bekasi - Sejumlah warung jamu di wilayah hukum Polsek Bekasi Kota (Bekasi Barat), dirazia aparat Polsek, Rabu malam saat pergantian Tahun Baru China 2566.

“Kegiatan yang dinamakan Operasi Liong Jaya 2015 ini,  menyita puluhan minuman keras oplosan,” ujar AKP Siswo, Kasubag Humas Polresta Bekasi Kota.

Menurut dia Polsek Bekasi Barat menyita 62 bungkus miras oplosan dalam bentuk kemasan plastik.

“Para pemiliknya saat ini sedang diperiksa di Polsek,” ujar Siswo, sambil mengatakan warung jamu yang dirazia itu berada di lingkunganan perumahan.

Organisasi masyarakat di Kota Bekasi, berharap pemerintah setempat mengintensifkan razia terhadap minuman keras mulai 2015.

“Peredaran minuman keras di Kota Bekasi perlu diperketat, terutama minumam keras yang diperjualbelikan di pertokoan ritel,” kata perwakilan Dewan Dakwah Kota Bekasi Abdul Karim di Bekasi, Kamis.

Menurut dia, minuman keras merupakan salah satu sebab timbulnya tindak kejahatan dan merusak akhlak generasi muda.

“Saya yakin sekali, hampir semua ulama dan perwakilan Ormas di Kota Bekasi pasti menginginkan peredaran minuman keras ini dapat ditekan,” katanya.

“Masih banyak cafe, salon, dan tempat karaoke di Kranggan, Kecamatan Jatisampurna dan wilayah lain di Kota Bekasi yang masih mengedarkan minuman keras ilegal,” katanya.

Pihaknya mengaku telah memastikan bahwa tempat hiburan itu mayoritas tidak berizin, bahkan ada yang berdiri di atas lahan milik negara.

“Itu semua kami harap perlu ditertibkan oleh pemerintah,” katanya.

Walikota Bekasi Rahmat Effendi  mengatakan permintaan itu telah sejalan dengan Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Walikota (Perwal) mengenai larangan peredaran minuman keras di pertokoan ritel.

“Menurut peraturan tersebut, penjualan minuman beralkohol hanya berlaku di hotel berbintang 3, 4, dan 5 di Kota Bekasi,” katanya.


Penulis: Saban
Sumber:Poskota

 
Copyright © 2014 Bekasi Post.Com | Media Online Bekasi. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger